Showing posts with label mama. Show all posts
Showing posts with label mama. Show all posts

Tuesday, October 16, 2018

Seminggu di seputar Kawaguchiko dan Tokyo

Akhirnya, saya kembali dari hiatus yang panjang.

Postingan saya terakhir adalah di tahun 2016, dan sekarang sudah lewat pertengahan tahun di 2018. Lumayan lama juga ya bobok nya. Penyebabnya bukan karena lupa password blog ini, tapi karena telanjur asyik dengan sosial media yang lain. Lagipula ada pekerjaan yang agak sulit ditinggalkan untuk sekedar menulis blog. Jadinya lama kelamaan malas nulis.

Sebenarnya tidak ada di agenda saya tahun ini pergi liburan ke Jepang. Semua terjadi mendadak saja gara-gara teman dekat saya, dia yang semacam 'adrenalin junkie' kalau nemu tiket pesawat promo murah kemana saja. haha

Bulan Mei ini Air Asia buka penerbangan langsung nonstop 7 jam Jakarta-Narita. Teman dekat saya tadi iseng-iseng buka laptopnya, sementara saya di meja sebelah lagi fokus dengan kerjaan. Tiba-tiba dia dengan semangat bilang kalau ada promo tiket ke jepang cuma 1.6 juta. Awalnya saya kurang tertarik karena mikir anak-suami yang bakal ditinggal di rumah, belom lagi ijin kantor, dll. Eh tapi pada akhirnya saya berjodoh ikut ke Jepang selama 7 hari dengan harga tiket yang lumayan murah. Itulah ya, if its meant to be, it will be...

Setelah dapat tiket pesawat, selanjutnya pengurusan visa karena paspor saya bukan e-paspor alias paspor biasa. Dibantu teman saya itu, dokumen-dokumen pengajuan visa pun beres. Tinggal janjian pergi bareng ke agen yang mengurus visa jepang, namanya VFS lokasinya di Lotte Shopping Avenue lantai 4. Pengurusan visa ini mudah dan cepat, hanya 5 hari kerja dan dikenakan biaya 500ribuan (lupa angka tepatnya berapa).

Salah satu tempat yang ingin kita datangi di sana adalah Shibazakura Festival yang berlokasi di sekitar Fuji-san berkisar antara pertengahan April sampai Mei. Semoga bisa terwujud lihat bebungaan sakura pink cantik bermekaran.

Begini kira-kira itinerary perjalanan kita kemarin:

12 Mei 2018, Berangkat dari Soetta Terminal 3 ke Narita
Pesawat take off jam 23:00. Kita bobo selama di perjalanan. Kira-kira jam 10 pagi (waktu Jepang) kita sampai di Narita. 

13 Mei, tiba di Narita Airport, naik bis menuju Tokyo Station untuk ganti bis lagi menuju Kawaguchi Station. Kira-kira kita sampai di Kawaguchi Station jam 4 sore, dan cuaca hujan saat itu. Untungnya hotel tempat kita menginap tidak jauh dari station. Kita menuju hotel dengan sedikit baju agak basah karena kehujanan. Tak apalah yang penting bisa mandi dan istirahat. Nama penginapannya Guesthouse Fujinokura Kawaguchiko. Kita menginap selama 2 malam di sini. Karena hujan terus sepanjang malam dan tidak bisa kemana-mana, akhirnya kita makan malam di restoran tempat kita kita menginap. Menunya ramen panas semangkok. Ditutup dengan minum sake, merayakan akhirnya sampai juga kita di Jepang dengan selamat. haha.

Apa kesan pertama buat saya begitu tiba di Jepang? Toiletnya canggih. 
Sampai butuh waktu lama buat saya liatin tombol pencetan dan fungsinya satu persatu. Ada tombol untuk Stop, tombol bidet, tombol pengering bokong, tombol musik kalau pas di toilet buang hajat berisik, tombol cebok area bokong pun ada lengkap dengan pengaturan kencang lembutnya semprotan! hahah keren amat ya. Belum lagi tisu toilet bisa langsung dibuang dan larut diflush tanpa bikin toilet tersumbat dan mengurangi timbunan sampah. Sungguh teknologi yang amat canggih.


14 Mei, bangun pagi disambut cuaca cerah habis hujan semalaman.
Agenda kita hari ini adalah muter-muter seputaran Kawaguchiko naik bus, melewati dua danau, Danau Kawaguchiko dan Danau Saiko, plus pemandangannya yang cantik. Lalu kita turun di Iyashi No Sato. Di sini semacam desa dimana rumah asli penduduk jepang dilestarikan dan sudah berubah fungsi menjadi museum, toko suvenir, galeri dan restoran. Serunya di salah satu rumah ini menyewakan kimono seharga 1000 yen dan kita bisa pinjam sambil foto-foto cantik dengan latar belakang pemandangan dan Fuji-san yang indah itu.

Setelah puas foto-foto dan makan siang, kita lanjut naik bis balik ke Kawaguchi Station lalu beli tiket kereta menuju Chureito Pagoda berhenti di Shimo-Yoshida station. Kali ini ingin melihat keindahan Fuji-san dari atas kuil Arakura shengen. Perjuangannya luar biasa untuk melihat pemandangan dari atas. Kita naik 400 anak tangga. Lumayan bikin paha kenceng.


Hari semakin sore, melanjutkan perjalanan berikutnya dari Shimo-Yoshida Station kita kembali ke Kawaguchiko Station, ambil jalur blue line, kita pergi ke Oishi Park naik bus. Disini kita duduk-duduk di taman menikmati (lagi-lagi) pemandangan Fuji-san dan danau sambil makan es krim lavender. Sekitar 30 menitan kita duduk sambil melihat turis-turis lain yang sibuk berfoto. Tidak lama petugas taman mengusir pengunjung karena tamannya mau tutup. Padahal masih sore saat itu dan akhirnya kita balik ke Kawaguchiko Station dengan bus yang lumayan penuh. 

15 Mei, Bangun pagi-mandi-sarapan dengan menu makanan yang kita sempatkan beli semalam di Lawson dekat Station, tinggal dipanaskan saja di microwave. Hemat uang dan hemat waktu karena kita mau mengejar bis paling pagi untuk ke Shibazakura Festival. 

Tuh kan ternyata benar, kita berada di antrian paling depan bis menuju Shibazakura Festival. Loket baru buka pukul 8 pagi. Begitu melihat kita datang, si ibu penjual loket berusaha menjelaskan kalau bebungaan yang mekar tinggal sedikit. Tidak lagi cantik rimbun seperti bulan April lalu. Yah mau gimana lagi kan tujuan utama kita memang mau lihat kayak apa sih Shibazakura Festival ini. Akhirnya tetap kita beli tiket daripada penasaran.

Perjalanan naik bis sekitar 30 menitan. Tidak ada macet. Semuanya tertib berkendara. lagipula kalau kita lihat kanan-kiri dari jendela bis, warga jepang tidak seramai Jakarta ya. Orang-orangnya lebih suka di dalam rumah/gedung daripada nongkrong pinggir jalan. 

Sampai di tujuan, apa yang dibilang si ibu loket tadi pagi ternyata benar. Bunga yang mekar tinggal sedikit. Tapi pengunjung lain juga mulai berdatangan dengan bis-bis tour besar. Maka kita gerak cepat langsung ambil spot cantik, foto-foto, dan tidak tertarik jajan di area food courtnya. Kita pilih antri bis lagi untuk kembali ke hotel, check out, ambil koper dan pergi ke Gotemba. Karena dari Gotemba kita mau langsung menuju Tokyo.

Dari Kawaguchi Station kita naik bis menuju Gotemba. Enaknya bis ini ada bagasi untuk tempat koper kita, jadi perjalanan kemanapun naik bis tetap nyaman. Sampai Gotemba kita sewa loker untuk menitipkan koper-koper yang berat ini. Lalu kita berkeliling premium outlet dan makan siang di sana. Tadinya saya berniat beli entah sepatu atau sport bra olahraga, tapi begitu lihat penunjung ruame banget selera belanja langsung drop. Hanya teman saya yang berjodoh belanja di sini. 

Dari Gotemba kita cuss ke Tokyo naik bus lagi. Harusnya perjalanan berkisar 1.5 jam, tetapi karena ada kecelakaan di jalan tol perjalanan jadi agak lama, 2 jam lebih. Sampai di Tokyo Station pun sudah kira-kira jam 1930. Dari Tokyo Station kita langsung mencari line kereta yang menuju hotel tempat kita menginap selama beberapa hari ke depan. Hotelnya di daerah Ryogoku, daerahnya pesumo. Nama hotelnya Khaosan World Ryogoku.

16 Mei, hari pertama di Tokyo kita mau pergi ke Asakusa, Sensoji Temple. Dari situ ke Tokyo Sky Tree, lalu ke Odaiba. Sampai di  hotel sudah gelap.

17 Mei, hari kedua kita ke Kawagoe, Saitama. Daerah ini masih di pusat kota Tokyo dan banyak cerita sejarahnya. Banyak kuil, tempat jualan jajanan jadul dan banyak spot lucu untuk foto-foto disini. Pulang dari Kawagoe, kita menuju Harajuku dan Shibuya, strolling around, belanja Daisho, Matsumoto, sampai beli tas ekstra khusus untuk oleh-oleh hahaha. Di Shibuya kita sengaja cari resto goiza yang direkomendasi banyak turis, sampai kebingungan bolak balik sambil buka googlemap tapi akhirnya ketemu juga. Setelah dicoba, rasanya bener-bener enak, murah dan antri walaupun tempatnya nyempil.

18 Mei, hari terakhir di Tokyo sebelum besok kita pulang ke Jakarta. Hari ini kita mainnya agak jauhan dikit, di ujungnya Tokyo, yaitu Yokohama. Yokohama ini semacam Tanjung Priok kali ya karena dekat pelabuhan. Tapi kita gak sangka kalau Yokohama ternyata cakep juga pemandangannya. 

Turun dari station, kita jalan kaki menyusuri Yamashita Park, bunga-bunganya cantik semuanya! pengunjung yang datang dari bayi-bayi ada di dalam stroller sampai guling-guling rumput, remaja anak sekolah sampai manula yang asyik melukis ataupun cuma duduk-duduk piknik sambil menikmati pemandangan pelabuhan. Rasanya adem banget ngeliatnya padahal cuaca lagi panas-panasnya. 

Kunjungan ke Yokohama hanya sampai beli makanan di Lawson, piknik di rerumputan sambil kasih makan burung lalu jalan kaki lagi di bawah cuaca yang amat terik kita ke Red Bricks Warehouse, minum bir sambil ngaso sebentar. Lalu pulang menuju station terdekat. Kita tidak pergi ke Chinatown yang masih satu area. Kenapa? karena panas siang itu dan udah cukup puas seharian keliling di Yokohama.

Pulang dari Yokohama kita mau langsung pulang ke hotel saja, beberes koper karena besok sudah cuss ke Jakarta. Oiya karena ini adalah malam terakhir di Jepang, khususnya di area Ryogoku, areanya pesumo, maka wajib hukumnya kita mencoba makan Chanko Nabe. Menu ini semacam shabu-shabu tapi porsi jumbo alias porsi makanannya pesumo. Eh tapi kita ga seganas itu loh pesan satu orang satu porsi, karena ukurannya besar kita cuma pesan satu porsi bertiga. itu aja lumayan kenyang. Benar-benar culinary experience kali ini.

19 Mei, check out hotel, off to Narita by train, beli oleh-oleh di bandara sekalian ngabisin sisa recehan yen, menikmati perjalanan udara selama 7 jam nonstop. Dadah babay Tokyo sampai ketemu lagi ya!


Sunday, January 17, 2016

Mama me-time



 Sejauh-jauhnya tupai melompat, akhirnya jatuh juga. Sesibuk-sibuknya mama kerja, akhirnya me-time juga. Ga nyambung ya? iya.

Menjadi seorang mama bukan berarti sibuk terus ngurus rumah tangga, tapi perlu juga maintain hubungan dengan teman-teman terdekat alias sahabat. Biasanya menjaga silahturahmi bisa dengan bikin grup kecil di hp, ngadain arisan, traktir makan pas ultah, ngabur makan siang bareng, ngopi cantik, nyalon bareng sampai plesiran bareng.

Tercetuslah ide untuk plesiran bareng-bareng, karena terakhir mamak-mamak me-time itu udah 2 tahun yang lalu. Udah lama juga kan. Kali ini idenya ga usah jauh ke luar negeri, karena anak saya yang nomer dua baru 1 tahun. Dan pergilah kita ke Bali, tepatnya di daerah Sanur. Kenapa pilih Sanur, karena ingin menikmati liburan sebenarnya ala orang dewasa yang cuma leyeh-leyeh, makan, santai, berenang, naik sepeda, ngopi, tanpa hiruk pikuk dugem. Gilak ya udah tua kita hahahha...

Kita nginap di Klumpu Bali Resort. Bener-bener hidden gem tempatnya. ga nyesel, persis sesuai prediksi liburan yang kita bayangin. 

Villanya ga gede kok, cuma 7 kamar kalo ga salah, dengan kolam renang di tengah-tengahnya cukup nyaman buat liburan kita yang emang pengen sepi-sepi aja. Kita sewa 1 kamar untuk 4 orang buat nginap 2 malam. Model kamarnya juga eksotis gitu, bangunannya kayak lumbung. Bersih, kamar mandi luas dan tinggal dua langkah doang buat nyebur ke pool. haven!

Ga usah khawatir kalau mau nyari makanan, tiap pagi dapet sarapan, tinggal pilih mau ala intercontinental, american, english atau asian breakfast. Kalau siangnya males keluar, makan di resto mungilnya juga enak kok masakkannya. Kalau bosen makan di villa, tinggal jalan kaki atau sepedahan keluar cari makan di sepanjang jalan dekat villa banyak makanan enak dari makanan jepang sampai italia ada lengkap.

Buat saya ini liburan yang bener-bener santai...ga sibuk jalan kesana sini, belanja ina inu, atau kuliner ini itu. Liburan yang tenang, nyaman dan berkualitas.

Terimakasih untuk teman-teman terdekat yang udah membuat liburan ini makin memorable...

cheers!

Saturday, September 22, 2012

Mama 'me-time'

Biar bagaimanapun mama juga manusia kan? mama butuh liburan, me-time yang gak harus lama-lama sih durasinya. paling tidak cukuplah untuk sekedar refreshing & balikin mood positif biar fully charged lagi. 


Puji Tuhan me-time mama berjalan lancar...pulang ke Jakarta dengan perasaan kangen plus plus sama  anak..suami...dan mbok pijet :)


Wednesday, January 25, 2012

Mama Flu

Iya, ini flu pertama saya di 2012. 

Setelah berupaya sekuat tenaga untuk selalu fit karena jarak rumah-kantor yang lumayan jauh, dan demi bisa main terus sama Matteo yang lagi pinter-pinternya - akhirnya saya tumbang juga.

Semalam, saat kepala saya lagi berat-beratnya, area mulut-hidung sudah tertutup masker dan sudah mau siapsiap rebahan setelah makan malam, Matteo masih setia di samping saya, ikut bobo-an. Gak disangka malam ini Matteo manis sekali :)

Saya bilang: Matteo sana main sama mbak.... mama bobo dulu ya. Matteo malah turun dari kasur, tutup pintu kamar dari dalam, naik kasur lagi, bobo sebelah saya. Padahal biasanya kalau saya tidur Matteo sudah naik-naik ke badan saya, main odong-odong :)

Saya elus-elus kepala, punggung, tangan, semua asalkan gak cium Matteo biar gak ketularan. Tapi dia malah melongok liat setengah muka saya yang ketutup masker sambil bilang: mama...mama.... :)

Waktu gak sengaja tangan kecilnya nyenggol leher saya. Matteo bilang: mama manass... (mama panas).

Dalam hati saya bersyukur dikasih flu ini. saya janji besok harus sembuh!


*PujiTuhan hari ini saya ke kantor dengan kepala tidak seberat kemarin*  :)


Thursday, August 4, 2011

Peanut Butter Cookies [anti gagal]



Ya. saya tambahkan embel-embel anti gagal karena memang begitulah adanya. Saya menjiplak resep NCC dan baru mencobanya semalam..... ternyata lumayan mirip hasilnya.

Terutama yang paling saya suka dari resep kukis ini adalah: tanpa mixer dan tanpa telur. yeayy gampang!

Bahan:
250 gr tepung terigu
90 gr gula halus
125 gr selai kacang halus / peanut butter
110 ml minyak sayur
1 sdm susu bubuk
½ sdt garam
1 sdm mentega

Bahan polesan:
2 butir kuning telur, kocok lepas
Kacang tanah cincang secukupnya.

Aduk rata : gula halus, selai kacang, minyak sayur, susu bubuk, garam dan mentega hingga rata. Tuang tepung terigu, aduk rata. Bentuk bulat dan tata dalam loyang. Poles bagian atasnya, beri hiasan kacang tanah cincang. Panggang dalam oven suhu 150’C hingga kuning kecoklatan.


Tuesday, July 12, 2011

Cake jamur eh chiffon coklat


satu hal yang perlu disyukuri adalah Matteo belum bisa bicara lancar apalagi merangkai kata dan bertanya, "itu apa?"

jadi apapun yang saya kerjakan selama itu menyangkut keluarga (apalagi Matteo khususnya) akan saya tuliskan disini. lagi-lagi sebagai ingatan kelak suatu hari dibacanya, ditertawakan dan dilontarkannya seribu pertanyaan kepada mama seorang, yaitu saya. :)

"itu apa Ma?"

berandai-andai suatu hari Matteo menemukan gambar ini di antara deretan koleksi foto di HP dan menanyakan kepada saya.

*sambil tertawa keras dalam hati* Itu jamur, nak. eh bukan....itu chiffon cake rasa cokelat. percaya gak? dan antara percaya atau tidak Matteo sudah pasti bengong sambil menunggu cerita selanjutnya.

Jadi gini, setelah sekian lamanya tidak pernah baking karena Matteo semakin malam jam tidurnya, tercetuslah suatu ide untuk mulai buka oven lagi dengan catatan saya terlebih dulu harus ikut pura-pura tidur, lampu dimatikan, dan usap-usap Matteo supaya cepat nyenyak biar saya segera kabur ke dapur meracik bahan-bahan kue.

Rencana saya ternyata berhasil. walaupun sudah jam 9 malam, tapi saya masih fokus menimbang bahan-bahan kue yang saya contek dari dapur ini. Sambil mengaduk putih telur supaya naiknya cantik, juga waswas berharap suara mixer yang menjerit di open-air kitchen tidak menggangu tetangga sebelah terutama anaknya yang masih bayi 5 bulan. duh maafin tante ya...

Kesalahan puncaknya adalah ketika sadar kalau resep yang sudah saya mixing di baskom adonan itu tidak sebanding dengan ukuran loyang chiffon yang saya punya, karena sudah tentu oven saya ukuran mini versi ibu rumah tangga yang belum jago baking :p

Jadi itulah anakku, kenapa chiffon mama nampak seperti topi bundar goyang-goyang. Ya, karena terjadi asas pemaksaan waktu dibuatnya. sayang nih sisa adonan kalau dibuang, begitu pikir mama. Dan terpaksalah dituang semua ke dalam loyang sampai penuh. akibatnya, terjadi pemekaran adonan besar-besaran sampai nyaris gosong bagian atasnya! untung dalamnya selamat sentausa empuk rasanya.

Matteo masih tergolek pulas di kamar ketika aroma kue hampir matang mulai tercium tajam. hmmm...paling suka deh harum kue yang baru matang di oven :) wangi favorit kedua setelah bau Matteo pas bangun tidur, kecutkecut gimana gitu. hihihi.

Paginya, Matteo bangun-mandi dan sarapan. tentu saja hari ini bukan menu roti bakar gandum selai kacang atau kue cubit depan pasar, tapi chiffon coklat bikinan mama. yeay!

Ya nak, biarpun kue mama bentuknya abstrak. tapi ternyata kamu suka sekali, karena teksturnya lembuuttt....tidak terlalu manis, dan yang penting bikinan mama sendiri tidak pakai pengawet apapun. benar kan? buktinya kamu habis 1 potong besar... makasih ya nak sudah bikin mama senyum ke kantor pagi ini :)

Friday, April 8, 2011

Tahu keju panggang



Salah satu menu laut yang belum dicoba Matteo adalah udang. Selain bingung mau dimasak apa, saya sendiri jarang masak udang untuk menu harian.

Terdorong oleh semangat “Matteo-harus-coba-semua-seafood-supaya-bisa-kencan-berdua-mama-sambil-makan-sushi”lah akhirnya semalam saya masuk dapur.

Menu ini dipraktekkan dari Koki Cerdik yang amat sangat berjasa buat saya yang setiap malam selalu merenung “Matteo besok makan apa ya?” dan selalu berakhir dengan membuka kulkas lalu meracik di dapur setelah membaca buku ini.

Tahu Keju Panggang, ada di halaman 60 di sub judul makan siang. Dan dengan briliannya saya ganti daging sapi giling dengan udang giling. Hihihi.

Bahannya:
- 1 buah tahu putih besar (saya pakai 5 kotak tahu putih kecil), haluskan, peras airnya
- ½ wortel , potong kecil
- Paprika merah potong kecil (paprika kuning atau hijau boleh juga kok)
- 5 batang baby buncis, potong kecil (ganti brokoli juga boleh)
- 100gr daging sapi giling (saya ganti udang kupas giling)
- 50gr jamur kancing, cincang halus
- 2 butir telur ayam
- 2 siung bawang putih, haluskan
- butter untuk menumis
- ½ buah bawang Bombay, cincang halus
- ½ sdt garam
- ½ sdt gula pasir
- ½ sdt merica bubuk
- 50gr keju cheddar parut, untuk taburan

Caranya:
- Lelehkan unsalted butter di wajan, tumis sampai harum bawang putih dan bawang bombay
- Masukkan wortel, paprika, baby buncis, jamur, aduk sebentar, angkat
- Di wadah yang lain, campurkan tahu, udang giling, telur, aduk rata. Masukkan tumisan sayur, tambahkan garam, gula dan merica bubuk, aduk rata
- Tuang adonan ke dalam loyang, taburi keju
- Panggang di oven selama 20 menit di suhu 180C

Thursday, March 31, 2011

Amplop akordeon

Perkenalkan, ini ‘partner’ keuangan saya yang baru: amplop plastik akordeon warna biru.

Kalau ibu-ibu jaman dulu (eh sekarang masih ada juga sih) seringnya pakai amplop putih kertas yang panjang. Kalau saya pakai amplop akordeon dari plastik ini. Lebih awet dan tidak gampang robek.

Kemarin saya beli di toko ATK seberang pasar Benhil, murah cuma 12ribu. Sengaja gak ke Gramedia, kalau kesana bisa-bisa malah borong buku *eh kok curhat*

Sebagai ibu rumah tangga yang masih gagap atur duit, saya memutuskan harus punya amplop ini. Kenapa? Supaya:

1. Pengeluaran setiap bulan jadi lebih tertib dan terarah karena di dalam amplop ini sudah terbagi menjadi sekat-sekat yang bisa diberi nama sesuai dengan pos-pos biaya rumah tangga.

2. Menghindari sering-sering ke ATM. Kalau sudah terbagi dengan tertib seperti ini, gak usah rajin ke ATM lagi. Selain bebas antri, juga menghindari pengambilan uang yang berlebihan.

3. Jadi rajin mencatat pengeluaran rumah tangga mulai dari beli cabe sampai beli bedak.

4. Lebih tenang. Karena semua pengeluaran sudah dirinci jadi gak ada yang namanya uang bayar listrik kepake buat angpau kondangan, atau uang beli susu pakai uang transport dulu…kusut jadinya!

5. Kalau sudah terbiasa tertib seperti ini, semoga bisa menjadi jembatan untuk tertib berinvestasi juga. Hore!

Well, untuk orang yang tidak tertib dan suka gatel kalau liat saldo ATM, sepertinya amplop akordeon ini cocok untuk saya. sekian.

Sunday, January 30, 2011

Muffin choc chip

Muffin choc chip ini sengaja bikin 2 resep. Lumayan mumbul sih hasilnya walaupun tampangnya acak adut. Cuma satu kekurangannya: kurang manis.

Monday, January 24, 2011

'Warga baru'


Senangnya salah satu whislist saya ini kesampaian juga. Ya, setelah mengamati pertumbuhan Matteo akhir-akhir ini, apalagi nafsu makannya yang pemakan segala itu (kecuali ikan-alergi), oh dan atas saran salah satu teman baik yang hobi banget baking, akhirnya beli juga benda ini.

Dan satu hal lagi yang bikin seneng, harganya pun on budget. emang ga pingin juga sih yang mahal-mahal buat beginner kayak saya ini. yang penting hasilnya bisa dimakan dan ga gosong aja udah syukur banget :p

Entah karena 'euforia barang baru' atau memang sensasi baking yang membara *halah-apapula ini*, jadilah wiken kemaren iseng-iseng bikin macaroni panggang sekalian uji coba cara kerja oven ini.

So far gampang sih pengoperasiannya. tinggal putar ke arah timer, atur suhu panggangan, lalu tunggu sampai bunyi 'ting' nyaring, jadi deh.

Jadi berhasil nih? ooo belum tentu kawan hahaha. percobaan baking pertama si macaroni itu sedikit mengalami hambatan sana-sini. yang musti pindahin dari ramekin ke loyang lah, belum lagi kurang susu cair lah, yang jelas sih oven ga salah, yang salah kokinya hihihi.

Tapi gapapa, rasa penasaran ini belum selesai kok. malah sebaliknya. bahan-bahan untuk baking project selanjutnya sudah siap. mari berdoa saja, semoga kami berdua (saya & oven, tentyunya) pada akhirnya menemukan kemistri yang pas untuk resep berikutnya. semangaaaaatt :D


*eh itu si loyang schiffon emang sengaja nangkring, nampang aja dulu bikin mah ntar2an tergantung cuaca hihihi

Friday, October 15, 2010

Jengki

Percakapan jam 06.00 pagi dengan si mbak.

Bu hari ini belanja ya / iya. mau masak apa mbak? / biasa bu, beli sayur ama tahu-tempe. eh bu saya beli jengkol ya / *mikir5detik* kamu doyan? / aku suka bu..*mesem* / yaudah beli aja, kamu thok lho yang makan, aku engga... *mikir5menit*-foto pertama kali makan jengkol dulu di mak uneh bandung mana ya?...


ini dia!

katanya ga doyan, tapi penasaran...